Sabtu, 18 Juni 2011

Egokah Aku part 10

Egokah Aku–part 10-

Kedua tangan itu saling bersalaman erat. Dengan senyum yang merekah dibibirnya. Rio tersenyum ketika sang client menyatakan mau bekerja sama dengan perusahaan papanya.

‘kerja yang bagus!’ batin Rio.

“jadi kapan kita bisa contact contact-an lagi ???” tanya Rio masih dengan senyum dibibirnya. Ia merasa puas karena mampu membuat client itu tertarik memberikan produknya pada perusahaan.

“secepatnya, pak!” kata sang client. Ahh , tidak masalah dipanggil pak, yang penting sekarang job sudah ada ditangannya.

“oke, kalo begitu, saya akhiri rapat ini, terima kasih.!” PT.MekarSariCipta mengakhiri rapatnya. Setelah saling bersalaman, akhirnya semua keluar dari Ruang meeting. Rio masih saja tersenyum sambil berjalan keluar dari Ruang meeting itu.

‘yes, bisa tunjukin ke ka Sivia nih !’ batin Rio senang . Ia pun segera menuju kearah parkiran untuk menjemput Ify dirumah sakit,, tidak,, bukan menjemput, tapi menemani Ify dirumah sakit.

Rio mulai melajukan mobilnya, dengan kecepatan yang,, biasa2 saja. Kali ini dia mau bersikap layaknya seorang distributor.. (emang distributor harus kayak gimana ??)
#############
Setelah puas menontn film horor nan sadis dan juga makan masakan Oik, Alvin dan Cakka memutuskan untuk pulang (SMP, Sudah Makan Pulang ,, :P)

“makasih ya udah masakin kita spagethi, wueenaakk sekali ! kita jadi kenyang..” kata Cakka sambil memegang perutnya dan tersenyum puas.

Oik hanya mengangguk saja.

‘iya, abis makan pulang, dasar , Cuma numpang makan doang !!’ batin Oik.

“yaudah kita pulang dulu ya, sekali lagi makasih ya, Ik !” Alvin dan Cakka melangkah keluar rumah Rio dan segera mengeluarkan mobil yang Ia parkir di samping garasi mobil Rio.

Oik segera masuk menyadari mobil Alvin sudah keluar dari gerbang rumah Rio.

Cakka menyalakan radio mobil Alvin, dan terdengar lagu rocker disana.

HEY .. YANG ADA DISANA ..
YANG ADA DI SINI …
SEMUA IKUT BERNYANYI
HEY .. YANG DATANG DISINI
JANGAN BIKIN KEKI
BIKIN SUASANA HAPPY
BERAKSII … BERAKSIII ..

Alvin dan Cakka berjoget ria didalam mobil ,, Alvin memukul-mukul stirnya karena saking ngerocknya lagu itu. Cakka mengikuti gaya metal layaknya seorang Rocker.

Saat sedang asik2nya berjoget didalam mobil , Alvin sampai2 tidak melihat ada seseorang yang sedang jalan didepannya, lebih tepatnya menyebrang.

PRIKPRIKPRIK

Klakson itu membuat sang gadis menoleh kearah kanan dan menyadari ada sebuah mobil melaju kencang kearahnya.

“AAAAAAAAAAA!” teriak gadis itu menutup matanya, tepat saat Alvin-hampir- menabraknya.

CKITTTTTTTTT
############
Shilla sudah siap dengan pakaian perginya. Dia berniat untuk refreshing, BT juga dirumah, batinnya.

Wajahnya terlihat sedikit pucat akhir2 ini ,, mungkin karena kurang makan dan kurang tidur. Ia membiarkan warna pucat itu menghiasi wajah cantiknya. Shilla tidak peduli dengan wajahnya yang terlihat seperti orang penyakitan. Yang penting sekarang Ia ingin bersenang-senang.

Dengan baju santai panjang berwarna hitam dan jeans biru pensil panjang. Gaya yang biasa untuk berpergian. Namun karena Shilla yang memakainya, jadi terlihat modis dan cantik.

Shilla memutuskan untuk naik taksi, karena mamanya lagi pake mobilnya dia,, alasannya , ya karena mobil mama Shilla lagi di bengkel.

Ia berjalan dengan santai sambil melirik jam tangannya. Jam 4 sore. Ahh, masih sangat banyak waktunya untuk bersenang-senang. Meski dia harus bersenang-senang sendiri tanpa ada yang menemaninya. Setelah Ify ‘pergi’ dari rumahnya, dia jadi tidak punya teman untuk mengobrol atau bersenang-senang.

Sambil terus melirik jam tangannya Shilla menunggu taksi namun tak kunjung datang. Shilla berdesah.

“ahh..” desahnya karena taksi yang ditunggu2 tidak sama sekali dapat terjangkau oleh pandangannya.

“mana sih ??” gerutunya . sepertinya Ia menunggu amat sia2. Taksi tak ada satupun yang lewat.

Matahari pada jam 4 sore belum terlalu tergelincir, sehingga teriknya masih membuat silau dan panasnya masih terasa, meski tidak sepanas pada siang hari.

Entah mengapa Shilla sedikit pusing. Pandangannya berbayang. Semakin lama semakin berbayang. Dan dalam bayangannya itu, sebuah mobil berwarna biru langit berhenti di sebrang sana.

Shilla tersenyum, meskipun yang Ia lihat pandangannya berbayang. Ia yakin itu adalah sebuah taksi, Shilla segera menghampiri taksi itu. Namanya sedang pusing, Shilla tak melihat kiri-kanan jalan. Dan yang lebih parahnya lagi, sekarang perutnya terasa perih. Inilah akibatnya karena dia belum makan dari kemarin malam.

Sebuah mobil yang melaju cukup kencang, Sang pemilik mobil itu nampaknya menyadari ada seseorang yang berjalan didepannya.

PRIKPRIKPRIK

Klakson itu terdengar tajam di telinga Shilla. Shilla menoleh mendapati mobil itu sebentar lagi akan menabraknya ..

“AAAAAAAAA”

CKITTTTTTTTTTTTTTTT

Pemilik mobil itu menginjak rem secara tiba2. Menimbulkan bunyi yang amat keras.

Dalam sekejap Shilla terjatuh didepan mobil itu dan pingsan.

Alvin, si pemilik mobilnya langsung turun melihat si korban jatuh. Tadinya Ia sempat berfikir ,, bahwa Si korban itu tertabrak mobilnya.

Alvin menghampiri ‘si korban’ itu.

“SHILLA !” serunya kaget melihat Shilla tergeletak tak berdaya. Cakka yang mendengar seruan Alvin, langsung keluar dari mobil dan sama terkejutnya dengan Alvin melihat Shilla pingsan tepat didepan mobilnya.

Tanpa basa-basi Alvin langsung menggendong Shilla masuk kedalam mobil. Cakka hanya mengikuti saja.

“Cakk, lo yang nyetir kerumah sakit,, gue mau jagain Shilla!” serunya. Cakka pun mengangguk dan mulai menjalankan mobilnya. Sementara Alvin dan Shilla dibelakang.

*ini kenapa jadi pada kerumah sakit semua yah ??*

Alvin memegang dahi Shilla yang,, panassshh. Lalu menatap wajah Shilla dengan bingung.

‘lo knapa Shill ?’ batinnya sedikit lirih menatap wajah Shilla yang pucat sangat.

“Cakk, cepetan dikit kek , ih !”

“iya sabar, Vin !” Cakka menaikan laju mobilnya, dan tidak sampai 5 menit mereka sudah sampai rumah sakit yang memang jaraknya sudah dekat dari TKP tadi.
##############
Rio berjalan kearah kamar ‘rosflower’ no. 54. Tadi dia nanya ke bag. informasi, katanya Gabriel udah di pindahkan keruang rawat biasa.

Masih dengan senyuman yang merekah Rio berjalan keruangan itu, ingin memberitahu Ify tentang keberhasilannya pada meeting kali ini.

Pintu kamar itu Rio buka dan ….

Entah mengapa senyumnya perlahan memudar melihat adegan ‘romantis’ didepannya itu. Emm, apa ?? apa dia cemburu ?? tak taulah, perasaan ini sering muncul tatkala melihat Ify bersama dengan Gabriel.

Tapi Rio senang, Ia amat jarang melihat Ify dan Gabriel berduaan seperti itu.

Rio masih mematung ditempatnya, melihat Ify tersenyum sambil menyuapi Gabriel makan.

Memang Gabriel sudah sadar , dan sudah melewati masa kritisnya.

Ify menoleh kearah Rio melihat Gabriel mengisyaratkan sesuatu padanya.

“eh, tuan !” Ify menaruh mangkuk bubur itu, dan berjalan kearah Rio.

“bentar ya, Yel,” Ify menarik tangan Rio keluar dari ruangan itu. Rio hanya mengikuti dan menunggu penjelasan Ify tentang bagaimana dan seperti apa keadaan Gabriel.

“Gabriel gimana?” tanya Rio.

“alhamdulilah, Iel ga papa. Kata dokter Iel udah ngelewatin masa kritisnya. Pendarahan di kepalanya juga ga berdampak buruk. Oiya,, gimana meetingnya??” tanya Ify diakhir kalimat.

“gue …. Berhasil Fy,, gue berhasil dapet job dari perusahaan besar itu ..” kata Rio menggebu-gebu dan ceria.

“hah?? Waduh, selamat ya tuan ..” Ify ikut tersenyum mendengarnya.

“oiya, Iel kira2 kapan bisa pulang ??” tanya Rio lagi.

Ify berfikir sebentar. “kayaknya besok juga udah bisa pulang deh ..” tebak Ify.

“sotoy lo kayak dukun !!” Rio menoyor kepala Ify.

“ihh apasih ! gasopan tau !!” Ify memengang kepalanya.

“bodo,, wlee!” Rio malah melet.

“ahh tau ahh, saya mau masuk, tuan mau ga ??” tanya Ify sembari membuka pintu kamar itu.

“mau ngapain ??” tanya Rio sumringah.

“yee, mau nyuapin Iel saya, tuan mau masuk ga ??” tanya Ify lagi.

“boleh,, ayo ,, !” Rio dan Ify masuk. Gabriel hanya manyun melihat pemandangan didepannya, habis, Rio ngerangkul Ify.

“kenapa lo ? cemburu ??” goda Rio.

“tau aja lo ! upss!” Gabriel spontan menutup mulutnya. Lalu melihat tatapan bertanya-tanya dari Ify. Rio terkekeh.

“haha,, bener kan ?? tenang, gue ga bakal ambil Ify kok !” kata Rio dengan senyum menggoda kearah Gabriel.

“ihh, engga kok ! tadi Cuma keceplosan !!” Gabriel ngeles.

“iya, keceplosan itu dari hati, harusnya tadi lo bilang salah ngomong,, haha ada2 aja lo Yel!” ledek Rio.

“engga juga, yee ..” Gabriel ngeles lagi.

“engga salah lagi ! iya kan ??” goda Rio. Membuat Ify memukul pelan bahu Rio.

“apaan sih tuan !” kata Ify malu2.

“alah, bedua lo sama aja, ngeles bisanya !” ledek Rio sambil melihat Ify yang mukanya udah merah.

“berisik!!” seru Gabriel dan Ify kompak. Membuat Rio terkikik mendengarnya.

“Yel, lo tuh ya, lagi sakit, kepala diperban, tangan luka2, tambah item, tambah jelek .,, masih aja ngelesnya gede !!” kata Rio yang langsung membuat Iel melotot.


“lo tuh mau nasihatin gue ya ??? kenapa pake ngehina ?? lo juga item !!” kata Gabriel tidak terima.

“engga ,, gue putih,, lo tuh item !!” balas rio, selalu saja tiap bertemu , mereka adu bacot.

“iya, gue item., tapi iteman elo,”

“elo juga”

“elo kali!”

“iteman elo !!”

“elo!”

“manisan gue !!” kata Rio narsis.

“engga manisan gue !” si Ify pusing ngedengarnya.

“STOPP! Kenapa sih tiap ketemu, kalian tuh berisik banget !” teriak Ify kesal.

“takdir!!” jawab mereka berdua kompak.

“ah, pusing ngomong sama kalian!” Ify bergegas keluar.

Rio langsung mengejarnya. Sebelum mengejar Ify dia meletin Gabriel.

“yah, yah, gue masih laper ni!! Uhh !!” gerutu Iel dan terpaksa akhirnya makan sendiri#kasihanIel :’(

Sementara Rio dan Ify malah makan dikantin #wahhparahniIfy!

“Fy, gue kekamar mandi dulu ya !!” kata Rio setelah selesai makan. Ify mengangguk. Rio pun bergegas pergi.

##########
Alvin dan Cakka mash menunggu diruang tunggu, Alvin masih bingung dengan apa yang terjadi sama Shilla.

Tiba2 dokter keluar. Membuat Alvin dan Cakka spontan berlari kearah dokter itu.

“dok, Shilla kenapa ?” tanya Alvin cemas.

Dokter menggeleng.

“Shilla tidak apa2, hanya kurang makan dan kecapean, juga penyakit lambung yang Ia punya, kambuh, saya harap, Shilla bisa menjaga pola makan dan istirahatnya, ingat,, jangan sampai dia kecapean lagi, ini dapat menimbulkan penyakit serius nantinya,, bila Shilla tetap tak menjaga pola makannya,,” jelas sang dokter.

Alvin mengangguk-anggukan kepalanya. Cakka juga. Dia mah daritadi ikut2an aja.

“kami boleh masuk dok ??” tanya Alvin.

Dokter mengangguk.

“boleh, asal tidak mengganggu pasien, karena Shilla belum sadar ..” jelas sang dokter lagi.

Alvin hanya bisa mengangguk lagi. sang dokterpun pergi.

“Cakk, pesenin bubur sama roti gih,, jangan lupa minumnya ya !” suruh Alvin sebelum masuk.

“ehh, enak aja, nanti juga dibawain sama suster.” Tolak Cakka.

“ih, lebih cepat, lebih baik !” paksa Alvin.

“lo aja sono, siapa elo nyuruh2 gue ??” Cakka melipat tangannya didada.

“owh, yaudah kalo ga mau, tiket JBnya gue batalin ahh, MnG nya juga ahh ,,” sindir Alvin sambil pura2 mengambil HPnya dan menelpon seseorang.

Cakka berfikir-fikir, dan langsung mengambil HP Alvin.

“ehh, I .. iya, jangan jangan ,, yaudah, gue beliin,, uhh,,” gerutunya dan segera pergi ke kantin rumah sakit.

Alvinpun langsung memasuki ruang itu. Dan duduk disebelah tempat tidur Shilla.

Cukup lama dalam diam diposisi seperti itu, Alvin hanya bisa memandang Shilla, tanpa melakukan apapun.

Namun kini jemarinya dengan perlahan menyusuri setiap lekuk wajah Shilla dan berhenti disatu titik, Alvin mengelus rambut Shilla, ahh, rasa itu tidak bisa hilang hingga sekarang.

Alvin tetap saja masih selalu berdebar ketika menatap Shilla. Mungkin cintanya pada Shilla terlalu besar.

“lo tau Shill, rasa ini masih ada Shill, ga pernah hilang, dan ga pernah berubah seinci pun,, apa lo ga bisa sayang sama gue ?” gumam Alvin sambil terus mengelus rambut Shilla.

Memandangnya dengan lirih. Alvin sangat ingin memeluk gadis ini sekarang, tapi apa daya, ia tak punya hak sama sekali, gadis itu bukan miliknya, ingat Alvin , gadis itu bukan milikmu.

Alvin menggenggam tangan Shilla. Hey, sekarang dia bebas untuk melakukan itu, sekali saja, membiarkan rasa keegoisannya menang untuk kali ini, karna mungkin ini takkan terjadi 2 kali. Alvin terus menggenggam tangan Shilla. Tak peduli dengan dinginnya tangan itu.

Dengan perlahan juga, Alvin mencium tangan Shilla, mungkin Shilla takkan pernah tau, apa yang Alvin lakukan padanya sekarang. Tidak, Alvin hanya ingin meluapkan rasa sayangnya sedikit saja.

Taukah kalian, Alvin pernah berjanji dalam hatinya, janji yang besar, bahwa Ia takkan pernah sanggup menyakiti Shilla, sekalipun sanggup, Ia tak mau,, Ia tak mau Shilla tersakiti, apalagi karnanya.

Alvin melepaskan genggamannya. Cukup, ia tak akan berbuat apapun pada Shilla, Ia hanya ingin menjaga Shilla. Alvin masih menatap lirih Shilla.

Apa Shilla tak pernah tau, bahwa Alvin sangat sangat mencintainya, jauh sebelum Rio mencintainya.

Tapi mengapa Rio bisa memiliki Shilla sedangkan Alvin tidak ??? percaya atau tidak, ini hanyalah sebuah takdir kecil yang digariskan Tuhan pada umatnya yang mengerti artinya mencintai.

“gue sayang lo, Shill !” gumamnya lagi. dengan tulus, berharap Shilla mendengar. Semoga, ya, semoga saja..

Alvin tidak pernah menuntut apapun, Ia hanya ingin, Shilla tau, seberapa besar rasa cintanya itu,, seberapa besar Ia ingin Shilla bahagia meskipun bukan dengannya.

Alvin tersenyum miris mengingat itu semua, sudahlah, tak ada yang perlu disesali, Alvin bahagia menjadi dia yang sekarang,, Alvin yang mencintai Shilla ….

Dan lagi2, Alvin hanya bisa diam menunggu Shilla sadar. Cukup puas memandang wajah cantik Shilla, Alvin menelpon cakka, habisnya, lama banget Cakka ga dateng2.

Setengah berjalan menjauhi Shilla, agar Sinyalnya lebih dapat, dan juga agar tidak mengganggu Shilla.

“halo !” seru Cakka disebrang.

“halo Cak, lama amet lo !”

“ehh, sori, ngantri nih,, !!” jelas cakka.

“yaudah,, elo sekalian bayarin administrasinya dulu ya, nanti gue ganti, oke !!” suruh Alvin seenaknya.

“ehh, ehh, enak aja, trus makanannya gimana?? Masa mau bayar aja sambil bawa makanannya sih ??”

“lo pesen, terus lo tinggalin dulu, nanti abis bayar balik lagi,, ambil deh, susah amat,, jadi orang kok ga pinter2 !” jelas Alvin seenaknya.

“hah? Iyalah,, yaudah deh, nanti lagi yak, ada yang mau kenalan nih!!” kata Cakka dengan nada menggoda.

“ehh, inget perjanjian, lo lupa ??”

“hah?? Emm, oiya, ya, yaudah lah, gajadi, udah ya nantian lagi! bye !” Cakka menutup teleponnya sepihak. Alvin hanya menggerutu.

“dasar Acakkadut!!”

Alvin pun kembali lagi kebangku disamping tempat tidur. Memandang Shilla lagi, dalam diam lagi.

Namun kali ini Alvin berdiri, dan dengan perlahan mencium kening Shilla, sedikit lama dan tertahan. Dengan tulus tanpa sedikitpun berniat apapun.

Alvin kembali duduk dan kembali menggenggam Shilla, menggenggam saja tidak apa2 kan ?? lalu menatap lirih Shilla dengan senyumannya.

“Alvin sayang Shilla ……………” bisiknya tepat ditelinga Shilla. Berharap lagi, Shilla akan mendengarnya,, Tuhan tolong, tunjukan rasa itu pada Shilla, sekali lagi, Alvin hanya bisa berharap.

Alvin tersenyum lirih, lagi, dan lagi,, sudahlah Alvin, waktumu sudah berakhir.

Jemari Shilla sedikit bergerak dan membuat Alvin tersentak. Dan refleks melepaskan genggaman ditangan satunya.

Dengan perlahan juga, Shilla membuka matanya,, membuat Alvin tersenyum karna itu berarti Shilla sudah sadar.

Buram .. buram semuanya,, Shilla masih belum jelas melihatnya ..

“Shill, “ panggil Alvin.

Shilla menoleh dan mendapati Alvin tersenyum kearahnya. Sudah jelas, semua pandangan Shilla sudah jelas.

“A .. Alvin,??” panggilnya bingung melihat Alvin dengan suara kecil.

“mm, sori Shil, tadi gue hampir nabrak lo !” jelas Alvin. Shilla berfikir lagi,lalu mengingat bahwa tadi sempat ada mobil yang akan menabraknya.

“mm, Shill! Tadi kata dokter, lo kurang makan sama kecapean ya ??”tanya Alvin.

“hah?? Mungkin !” jawab Shilla sambil tersenyum.

“yaudah deh, gue keluar bentar ya, mau nyusul Cakka, abis dia lama banget bawain makannya!” kata Alvin yang sebenarnya ingin menghindari mata Shilla , bisa jantungan dia kalo kelamaan disini ,, ngeliat senyum Shilla yang, ebusett, manisnya ..

Shilla hanya mengangguk kecil. Alvin pun segera keluar dari ruangan itu.

Shilla tersenyum kecil melihat Alvin yang terlihat salting tadi. Juga tersenyum karena tadi mendengar sesuatu. Kalimat yang benar2 membuatnya heran.

‘Alvin sayang Shilla ..’

Kalimat itu terus terngiang-ngiang di pikiran Shilla. Apa ? jadi Shilla sudah tau bahwa Alvin menyayanginya?? Terus bagaimana kelajutannya?? Entahlah, Shilla masih belum yakin dengan apa yang masuk ketelinganya tadi.

Shilla tersenyum lagi, entah mengapa dia senang mendengar kalimat itu,, apa Shilla juga menyayangi Alvin atau tidak, hanya Shilla dan Tuhan yang tau (tentunya saya juga dong !)

Shilla melihat kearah meja dan , Ahh itu HP Alvin. Sepertinya tertinggal. Shilla mengambil HP itu, hatinya tergerak untuk melihat-lihat menunya. Shilla melotot tatkala melihat sebuah menu yang Ia buka ,, apa ???

Dan kalimat yang diucapkan Alvin kembali terngiang-ngiang diotak Shilla …

‘Alvin sayang Shilla ………’
##############
Alvin berjalan kearah bagian administrasi. Melihat cakka yang sudah berada disana dengan cengo.

“CAKKA?”

“KA VIA??”

“RIO??”

“ALVIN??”

“KOK DISINI ???”

-BERSAMBUNG-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar