Minggu, 19 Juni 2011

Egokah Aku part 15

Egokah Aku-part 15-

Oik meringis kala mendengar suara itu lagi2 menggelegar. Masih dalam pelukan Cakka. Menyadari itu, Oik langsung melepaskannya.

“yah, kok dilepas??” tanya Cakka sambil manyun.

“yee, maunya. Sori tadi,, aku takut petir.” Kata Oik malu2.

“ahh, gapapa kok !!” Cakka malah senyam senyum gaje.

“ihh, udah ah,, kita main lagi yuk, one on one ?? gimana ??” tawar Oik.

“yakin lo nantang gue ?? ga takut kalah ??” tanya Cakka memainkan alisnya.

“kamu ga mau ya bilang aja,, jangan ngeremehin deh !!” kata Oik sok ngambek.

“ahaha,, oke oke! Siap2 aja buat kalah !!” Cakka langsung mengambil bola basketnya yang tadi sempat terlempar jauh.

“siapa takut !” Oik dan Cakka mulai tanding. Seru, seru sekali bermain dengan Cakka. Laki2 yang supel dan asik.

BRAKK

“Ik !” Cakka kaget.

“aduhh, aaa sakit huhu, sakit !!!” Oik malah merengek. Salah juga sih sok sok an mau lempar bola harus pake lari dulu, jadi kepeleset deh .

“kaki lo kenapa ??” tanya Cakka bingung dan langsung menghampiri Oik.

“keseleo ,, hiks hiks ..” Oik malah menangis.

“ee, udah jangan nangis, ayo sini gue urut..”

“emang kamu bisa urut ??” taya Oik tak yakin.

“nyehh, gini2 kalo gue kalo lomba angkle (tulisannya salah ya?? Maklum ,, aku ga tau basket, hehe) ngurut sendiri tau !”

“yaudah deh .,,,,”

Cakka pun langsung mengajak Oik kepinggiran lapangan dan mengurutnya. Hujan pun masih belum berhenti.

Selang beberapa waktu, Cakka pun akhirnya selesai mengurut Oik. Melalui kesakitan mendingan dan sembuh. Tapi tetap,, kaki Oik masih tak bisa untuk berjalan.

“lah , gimana bisa pulang ??” tanya Oik.

“gue gendong !!” kata Cakka menunjuk pundaknya.

“hah, aku berat loh ??”

“tenang, gue lebih berat !! udah buruan , naik !!”

Oik pun langsung naik ke punggung Cakka.

“oke, lets go !!” Cakka mulai berjalan. Tidak, yang Oik bilang salah, orang Cakka ga ngerasa keberatan kok.

“sori Ik, klo gue ga ngajak lo main basket kan elo ga bakal keseleo!!” kata Cakka menyalahkan dirinya.

“ga lagi, aku yang salah ,, harusnya aku ga usah soksokan lari dari jauh !! jadi gini kan !!”

“ga kali, gue yang salah..”

“aku yang salah!!”

“gue yang salah !!”

“aku yang salah !!”

“gue !!”

“aku”

“gue!”

“aku!!”

“stop., kita berdua salah !!” kata Oik menengahi sendiri.

“yang bener, ga ada yang salah !” kata Cakka.

“iyyaiya oke!! Berisik ahh, emang ga cape lagi gendong anak orang sambil ngomong !!” seru Oik.

“ga tuh biasa aja, Cakka gituloh !!”

“huuuu!!!”

Cakka melanjutkan jalannya yang tadi sempat berhenti . sedikit lagi sampai dirumah Rio.
###########
“LEPASIN DIA !!!!!!!!!” seru seseorang. Shilla menoleh kaget, begitupun para preman2 itu.

“haha, dasar anak bau kencur ,, mau sok sokan jadi pahlawan !!” tawa si preman remeh.

“Alvin ..” Shilla kaget melihat Alvin tiba2 ada disini. Tapi mungkin Shilla belum tau, sekarang dia sedang ada di dekat perumahan rumah Alvin.

BUKKKK BUKKK BUKKK

Ga segan2 Alvin meninju satu persatu si preman. Bahkan si preman yang bawa pisau tadi berhasi dia bikin kewalahan.

BUUUKKK BUKKKKK

Tanpa ampun, masih tanpa ampun Alvin menghajar para preman.

Tidak kehabisan akal, si preman yang ternyata masih memegang pisau langsung menjulurkan pisau kearah Shilla yang dari tadi hanya sedikit meringis melihat Alvin memukuli para preman2 itu.

“Haha, mau kemana lo ?? heh,, cewe lo kayaknya ga bakal selamat deh !!” dasar preman sotoy, siapa bilang Shilla pacarnya Alvin. Haha,, preman emang sotoy, kagak pinter2.

Alvin menoleh melihat Shilla yang tepat didepan wajahnya ada pisau tajam yang siap merobek kulitnya dan menusuknya kapan saja.

Melihat dua preman yang dia gebukki tadi sudah tepar, Alvin langsung menghampiri si preman yang mengarahkan pisaunya ke wajah Shilla.

“lepasin Shila!!” Alvin berniat menepis pisau itu, si preman malah semakin mendekatkan pisaunya kearah wajah Shilla.

“jangan mendekat!! Lo mendekat, habis dia di tangan gua !! haha”ancam si preman. Alvin geram , sementara Shilla sudah angat ketakutan. Kalau sekarang tidak hujan mungkin keringatnya sudah bercucuran deras.

“lepasin ga ???” Alvin malah semakin mendekat. Si preman yang emang nekat pun langsung …

“AAAAAAAAAAA” Shilla menutup wajahnya. Namun ,, tidak terjadi apa2 dengan dirinya. Perutnya bebas, wajahnya tidak berdarah sedikitpun.

Ia membuka matanya, dan melihat Alvin sendiri menahan pisau itu, ia menggenggam mata pisaunya. wajahnya sedikit kesakitan. Tangannyapun sudah mulai berdarah darah.

“Vin !” Shilla kaget.

“lari Shill, lari, cepet !!!” suruh Alvin menahan sakit.

“tapi Vin, elo ??” tanya Shilla bingung. Si preman masih memegang pisau yang ditahan Alvin.

“plis,, pergi Shill cepetan!! Gausah peduliin gue !! lari Shill !!!!” suruh Alvin masih menahan sakit. Shilla mengambil ancang2 untuk lari, dan Ia berhasil. Ia berhasil lari dari preman2 itu. namun dia tidak bodoh, Dia langsung mengumpat disalah satu tembok besar disana .

Merasa Shilla sudah hilang dari pandangan, Alvin langsung melepaskan genggamannya pada pisau itu.

“arggh ..” ringisnya sambil menatap tangannya yang sudah berlumuran darah.

Si preman yang geram pun menatap Alvin sengit.

JLEPPP

“AAaaa…” teriak Alvin kesakitan saat preman itu menusuknya.

Karena takut ketahuan dan malah masuk penjara, Ia membangunkan teman2nya yang sudah tepar tadi dan langsung kabur dari sana. Pisau yag tadi Ia buat menusuk Alvin, Ia lempar entah kemana.

Shilla membelalakan matanya saat si preman itu menusuk Alvin. Ia pun langsung berlari menghampiri Alvin yang tarjatuh memegang perutnya.

“ALVIN!!!” teriaknya sambil berlari. Matanya panas, ahh ini semua karenanya. Kalau saja Ia tidak nekat pulang malam dan pergi membeli bensin malam2 , pasti Ia takkan di cegat preman, dan Alvin tak akan tertusuk seperti ini.

“Vin, ta .. tahan ya ,, “Shilla menutupi perut Alvin yang berlumuran darah itu. sambil berteriak teriak. ‘tolong’

Dan sepertinya ,, keberuntungan dan keselamatan masih berpihak pada mereka. Sebuah mobil melintas . Shillapun menggoyag goyangkan tangannya memberi tanda pada mobil itu. mobil itu pun berhenti, Shilla segera berlari kearah pengemudi.

“pak, tolong pak, temen saya ditusuk pakk,, kami ga punya kendaraan untuk kerumah sakit..” kata Shilla panik sambil sesekali melihat Alvin yang sudah guling2 menahan sakit diperutnya.

“ayo neng ayo , silahkan !!” si pengemudi pun turun dan membantu Shilla mengangkat Alvin.

“Vin ,.. tahan ya ,, tahan Vin !” kata Shilla panik setelah sukses menggotong Alvin ke jok belakang.

Alvin masih meringis sambil memegang perutnya di paha Shilla (aduh bahasanya ,, haha). Ia tak tahan, sebab ini baru pertama kalinya Ia ditusuk. Akhh, sakit .. (jangan sampe deh,, hoho)

Shilla semakin panik. Hujan masih terus mengguyur dan membuat jalanan licin. Sementara mobil yang ditumpanginya berjalan dengan kecepaatan cukup tinggi,, alasannya ya biar cepat sampai rumah sakit.
############
BRAKKK

“IFY!!!!” teriak Rio sambil menopang tubuh Ify yang terjatuh.

“Fy,, Fy,, Ify !!” panggilnya sambil memukul mukul wajah Ify. mata Ify terpejam dan Itu berarti dia pingsan. Ify pun tak bereaksi.

Terpaksa Rio menggendongnya. Namun malam2 begini, klinik mana yang buka. Apalagi di perumahan mewah seperti ini, jam 7 saja mereka sudah terlelap mungkin.

Rio terus berlari sambil menggendong Ify. ahh, mengapa ribet seperti ini sih ??

Semua klinik yang Ia tau diperumahan ini semuanya sudah tutup, tak ada satupun tersisa.

Rio bingung, kalo seperti ini ,, Ify bisa2 mati kedinginan, pikirnya ngelantur. Ia capek sekali dari tadi berlari mencari klinik namun tak ada satupun yang buka.

Ditambah wajahnya yang lebam itu semakin membiru oleh dinginnya hujan.

Seseorang tukang kebun mungkin , Ia lewat sambil berjalan.

“pak, disini ada klinik yang buka ga ya ??” tanya Rio buru2.

Si ‘pak’ itu melihat Ify yang matanya terpejam dalam gendongan Rio. (lo kata bayi !! hehe)

“wah mas, gaada,, jam segini klinik udah tutup semua, ada juga rumah sakit , tapi masih 5 kilo lagi dari sini !” jelas si ‘pak’ itu.

“5 KILO ??? hah?? Yang bener pak?? Cuma rumah sakit itu doang ???” tanya Rio kaget. 1 kilo aja udah gempor gimana 5 kilo coba.

“iya, itu rumah sakit terdekat dari perumahan ini, ada satu lagi, tapi 12 kilo lagi dari perumahan ini,,” jelas si ‘pak’ itu lagi.

“hah ?? yaudahlah ,, makasih ya pak,, kalo boleh tau jalannya kemana dan rumah sakit apa ya namanya ??”

“mas telusurin aja perumahan ini, mentok belok kiri,, luruussssssssss terus,, sampai ketemu tikungan belok kanan, dan ketemu perempatan lurussssss aja terus, ntar disitu ada rumah sakit namanya RS Elisabeth” jelas si ’pak’ itu . Rio mendengarnya langsung menghela nafas.

Itu sih jauh banget, emang dia kuat, tubuhnyapun juga sama, dingin sekali, ditambah dengan bekas pukulan tadi yang membuat pipinya dan wajahnya terasa nyutnyutan.

Tapi mau bagaimana lagi ?? ingin balik kerumah malah lebih jauh, tapi,, ahh, stress Rio memikirkannya.

“yaudah pak, makasih ya …” si ‘pak’ itupun berlalu meninggalkan Rio .

Rio langsung berlari ke tujuannya tadi, rumah sakit. Ia tidak peduli sejauh apapun itu. yang penting sekarang, Ify selamat.

Beribu meter sudah Ia tempuh mencari arah tujuan dan kepastian,, dimana rumah sakit itu berada. Kakinya sudah lelah berlari. Kalau saja tidak hujan, keringatnya sudah berproduksi sangat banyak.

Apa ?? ia pun sudah tak kuat, sementara di perkirakan baru 1 kilo lebih yang Ia tempuh, ahh, masih sangat panjang yang harus Ia lewati. Lelah, lelah sekali kakinya. Namun Ia tak menyerah. Demi Ify mungkin.

Derap kakinya melangkah lebar2 masih sambil menggendong Ify. pegal, capek, lelah, sakit,, semua campur aduk dirasakan Rio. Kalo di hitung2 sekarang sudah 2 kilo Ia berlari menyusuri jalan yang di beritahu bapak2 tadi. Adakah tumpangan yang bisa mengantarnya sampai ketujuan. Kakinya benar2 lemas.

Rio berhenti sebentar, mengatur nafasnya yang tak beraturan, memejamkan matanya sebentar, meresapi setiap air hujan yang membasahi tubuhnya.

‘Tuhann, bantu aku ,,,,’ batinnya sambil menghela nafas. Dan kemudian mulai berlari lagi. harus, harus bisa, batinnya kuat, tujuan pertamanya adalah menyelamatkan Ify.

Rio tersenyum kala melihat sebuah papan bertuliskan

‘rumah sakit Elisabeth . jl, gembara no 14 => 1,5 KM’

Meski tergolong jauh, tapi berarti dari tadi dia sudah menempuh kira-kira 3,5 kilometer daritadi. Ia melihat jam besar disalah satu tiang kota (kalo yang tinggal dibekasi ,, bisanya adanya dideket mall giant,, kalo ditempat lain kurang tau deh, hehe), jam tengah menunjukkan pukul 09.15 ,, hah?? Rio sudah sejam lebih berlari?? Sinting banget ,,

Rio tak peduli lah, yag penting Ia segera membawa Ify kerumah sakit itu.

Berlari dan terus berlari tak peduli nanti, sedikit lagi , sedikit lagi sampai, sedikit lagi.

Ahh ayolah ,, tinggal beberapa meter lagi sampai Rio, ayo, cepat ayo, cepat cepatt,, Rio berhenti sebentar ,, lalu mengatur nafasnya yang sudah hampir hilang, separuh kesadarannya memudar.

Ayo Rio, sedikit lagi, batinnya menyemangati diri sendiri.

Rio melanjutkan langkahnya, larinya sudah tidak sempurna lagi, sepertinya dia sudah kewalahan,

HAPP

Ia bisa sampai kedalam rumah sakit,, akhirnya ….

“sus, tolong sus, tolong temen saya …” si suster itu langsung menarik kasur berjalan yang terdekat, dan Rio langsung meletakkan Ify di kasur itu.

Rio berlari mengikuti suster yang juga berlari. Apa ??? kesadarannya setengah lagi ,, matanya tertutup perlahan. Kakinya tak kuat menopang tubuhnya,,

BRUUKKKK
########
“ya Allah….” Sivia kaget melihat seseorang yang dikenalnya mabuk seperti itu.

‘orang yang mabuk’ itu bangun lagi. dan melihat Sivia dengan tatapan tak percaya.

“hai,, hai,, kayak kenal ,, aduh siapa ya ?? oiya,, oo,, inget, ka Via ya,, eh,, Via yahh ,,” kata orang itu dengan nada ga beraturan, maklum lagi mabok.

“Gabriel ,, apaan sih ?? kok bisa mabok ???” tanya Sivia bingung mesti gimana, orang yang ternyata Gabriel malah menggeleng.

“aku ga mabok kok, nih, ga kan ?? iya kan , hehe, aku sehat kok ,,” Gabriel menunjukkan senyumnya ,, namun namanya orang mabuk ya yang terlihat hanyalah gaya sempoyongannya (??)

“Iell, kamu tuh mabok, ayo bangun, kaka anter pulang ..” Sivia berusaha membantu Gabriel bangun.

“ihh, kaka, kaka, kita tuh seumuran sayang, ngapain pake kaka coba, ihh,,,” ucap Gabriel yang membuat Sivia bingung, bukannya waktu itu Rio cerita, kalo Gabriel itu seumuran denga Ify, ya….

Tapi orang mabuk itukan biasanya jujur, iya ga ??

“udah deh Yel, kamu tuh lagi mabok, ayo masuk mobil,,” kata Sivia sambil membantu Gabriel bangun dan masuk ke mobilnya.

@dalam mobil

“Sivia ,, kamu cantik yaaa, kayak artis, hihi, aduh jadi naksir deh ,, cuit cuit ..” omongan Gabriel mulai ga jelas membuat Sivia tertawa kecil, setaunya orang mabuk itu jujur, berarti kalau Gabriel bilang dia cantik jujur dong (emang!)

“Yel, kok kamu bisa mabok sih ??” tanya Sivia bingung.

“ahh, ngga kok, dibilagin aku ga mabok, gimana sih Sivia, tadi kupingnya taro kantong ya makanya ga denger !!” ucap Gabriel semakin ngaco.

“Eh, Sivia,, kamu tau ga,, aku tuh keseeeellllllll banget sama papa ,, papa itu kerjanya Cuma mainin cewek ga kayak aku yang setia!! Papa tu ga pernah mikiin aku dan ade aku,, bahkan aku yakinn dia itu ga tau setiap hari kita makan apa aja,,, jahat kan dia ?????” kata Gabriel menjelaskan semuanya.

“papa???” tanya Sivia bingung.

“iya say (say say lagi, si Iel), aku benci sama dia, dia itu dari waktu aku kecil ga pernah kasih aku makan secara langsung, kalo pulang kantor selalu lebih dari jam satu malem, berangkat kurang dari jam 5 pagi, kalo libur Cuma diem dikamar ga tau ngapain, makan ga pernah di meja makan,, terus katanya ,, dia yang bunuh mama… ihh kayak sinetron ya ?? apatuh namanya,, em ,, cinta pitri,, ehh, beda dengg, ahh pokoknya kayak sinetroooooonnnnnnnnnnn!!!” Gabriel malah teriak2. Sivia semakin bingung apa yang dijelaskan Gabriel.

“nama papa kamu siapa emangnya..?” tanya Via penasaran.

“itu, siapa tuh, bima bimacan, eh bukan, bima rizky, itu belakangnya pake emble embel damanik, ngikutin namaku kan ?? haha “ Gabriel tertawa. Sivia kaget bukan main. Pak Bhima Rizky Damanik kan pernah bekerja dengan perusahaan HA hingga terjalin beberapa tahun.

CKITTT. Sivia mengerem mendadak. Membuat Gabriel tersentak meskipun masih teler.

“jadi om bima itu, papa kamu Yel ??” tanya Sivia lagi.

“aduhh nyetir yang bener dong !! sini aku gantiin,,” Gabriel mulai ngelantur.

“jawab jujur Yel, om bima itu papa kamu ??”

“hah?? Bukann, bukann, dia ga pantes jadi papa, duitnya emang banyak, tapi nilai kasih sayang sama kemanusiaannya nol, ga kayak aku nilainya seratus, beda kan ??” jawab Iel lagi. Sivia hanya bisa geleng2 dan sebentar lagi semuanya akan terungkap.

“tapi Yel, kalo kamu orang kaya, kok kamu jualan ??” tanya Sivia mengorek ngorek info.

“ngapain makan dari duit dia, harammm, haha ! ya ada nanti ni perut bukannya gendut malah dimakanin cacing jadi kerempeng ,, haha!” Gabriel tertawa lagi membuat Sivia geleng2.

“yaudahlah, rumah kamu dimana sih ?? kaka ga tau !!” kata Sivia sambil mengedarkan pandangannya ke rumah2 yang dilewatinya.

“ahh, gamau pulang, ga mau pulangg.,,,,,,,,,” rengek Iel seperti anak kecil.

“huh, yaudah2, kerumah kaka aja ,,’’ Akhirnya Sivia pun menutar balik kearah rumahnya, dia memutuskan untuk meng-cancel pertemuan meeting tadi.

-BERSAMBUNG

Tidak ada komentar:

Posting Komentar