Egokah Aku -part 11-
“CAKKA?”
“KA VIA??”
“RIO??”
“ALVIN??”
“KOK DISINI ???” tanya mereka kompak satu sama lain, bingung kenapa semua pada ada disini .
“Shilla/Iel/Stev sakit !” jawab mereka berbarengan lagi. terkecuali Cakka, Cakka hanya cengo melihat mereka ngomong pada kompak banget.
Mereka-Alvin,Rio,Sivia-terdiam dan masih berfikir satu sama lain.
“Kok Bisa ??” tanya mereka bertiga berbarengan lagi dan sedetik kemudian tertawa.
“oke, oke, gue dulu,, tadi Shilla pingsan, dan gue langsung bawa kerumah sakit..” jelas Alvin.
Rio membelalakan matanya.
“Shilla??? Kenapa dia ???” tanya Rio kaget.
“mm, kata dokter sih dia Cuma kecapean aja, sama maagnya kambuh !” jelas Alvin tidak mau memperpanas suasana. Rio mengangguk mengerti, toh dia juga sudah tidak peduli.
“lo kenapa disini ?” tanya Alvin ke Rio.
“temennya Ify sakit ,, dia mengalami kecelakaan, gue Cuma nemenin dia doang!” jelas Rio.
“Siapa ???” tanya mereka kompak.
“ituloh ka, Gabriel,, yang waktu itu hampir aku tabrak ..”
“owhh..”
Sementara Alvin dan Cakka masih mengerutkan kening.
“Gabriel siapa ?” tanya Cakka dan Alvin hampir berbarengan.
“panjang, ya pokoknya dia temen gue juga ,,,” jawab Rio.
“kalo ka Via disini ngapain ??” tanya Alvin bingung.
Rio yang udah tau sih diem aja.
“tanya aja sama Rio, udah ahh, aku mau ke kantin dulu, mau beli minum,, haus!” katanya seraya berjalan melewati Rio. Rio dkk hanya mengangkat bahunya.
“terus Shilla gimana ??” tanya Rio.
“emm, tadi sih udah sadar, Cakk, ambil sana makanannya, ! gue mau nyuapin Shilla,,” suruh Alvin. Cakka mengangguk dan segera menuju kekantin.
“lo dikamar mana Vin ?” tanya Rio.
“melati no 57, elo ??”
“gue dimawar, lupa nomer berapa , hehe !” Rio cengengesan.
“yaudah, gue ke Ify dulu ya, sukses bro!” Rio memainkan matanya.
Alvin mengangkat alisnya dan mengangkat bahunya,, kemudian memutuskan kembali kekamar Shilla.
##############
Alvin melangkah masuk kedalam kamar Shilla, dan Alvin terkejut karena tidak mendapati Shilla dikasur. Kemana dia ???
“Shill, Shilla!! Lo dimana ??” panggil Alvin sambil membuka pintu kamar mandi disitu, siapa tau aja, Shilla ada di kamar mandi. Tapi nihil, Ruangan itu kosong. Alvin tidak melihat Shilla disemua sudut ruangan itu.
Tiba2 seseorang berdiri cukup jauh dibelakangnya dan menatapnya lirih.
Alvin tidak menyadari ada Shilla dibelakangnya. Ia masih saja celingak celinguk , barangkali Shilla ada di balkon yang ada dirumah sakit itu tanpa menoleh kebelakang.
Shilla meremas Handphone Alvin.
“Alvin …” panggilnya. Dengan nada sedikit tidak percaya.
Alvin menoleh, dan tersenyum melihat Shilla ternyata tidak hilang.
“eh , Shill .. lo kem ..” ucapa Alvin dipotong oleh Shilla.
Shilla mengangkat HP Alvin dengan sinis.
“jelasin maksud dari ini semua???” suruh Shilla sinis sambil melempar HP Alvin kebawah. Untuk saja Hp itu ada silikonnya, jadi di lempar pun ga ngaruh.
Kayaknya Shilla marah banget sama Alvin. Alvin kaget bukan main melihat Shilla melempar HPnya . bodoh , bodohnya Alvin, lupa membawa HPnya. Ahh Ia merutuki dirinya sendiri.
Shilla mendekat kearah Alvin masih memandangnya sinis.
Shilla mencengkram bahu Alvin, menatapnya , ahh tidak bisa diartikan.
“jawab Vin !! jAWAB!” Shilla mengguncang tubuh Alvin yang masih diam mematung. Alvin menatap Shilla, yang sepertinya sangat marah padanya.
“Shill, maaf!” kata Alvin agak melas. Dia tidak menyangka Shilla akan semarah ini padanya.
Shilla menatap Alvin emosi. Lalu mendorong Alvin.
“maaf?? Bulshit lo !!” Shilla berlari pergi keluar dari kamar itu.
“Shill, Shilla, arggghhh !” Alvin mengacak-acak rambutnya. Kemudian mengambil Handphonenya dan mengejar Shilla.
Shilla berlari kearah taman rumah sakit, masih ga nyangka dengan isi handphone Alvin yang ternyata semua tentangnya, mulai dari galery fotonya, video2nya sampai semua sms Alvin ternyata semuanya tentang Shilla. Ahh, separah itukah ..
Tapi itu dulu, ketika mereka kelas XII ,, Alvin sudah tidak mengintai Shilla lagi. bahkan, Ia tak tau bahwa akhir2 ini Shilla kurang makan dan tidur, juga ketika Shilla ingin pergi tadi, Alvin tak tau kan ??? itu berarti Alvin sudah tidak mengintai Shilla lagi.
Alvin menghentikan langkahnya saat melihat Shilla berdiri membelakanginya disana.
“Shilla maaf!!!” katanya langsung. menatap punggung Shilla yang berada tak jauh dari dirinya berdiri sekarang.
Shilla tersenyum miring, meski Alvin tak melihatnya.
“buat ??” tanyanya dengan nada remeh.
“tentang semua yang ada dihape gue, semuanya , maaf, gue Cuma mau mastiin kalo elo dalam keadaan baik2 aja.” Jelasnya.
“heh, lebay !” kata Shilla meremehkan. Terasa menusuk dan tajam.
DEG
Rasanya sakit mendengar Shilla mengatakan seperti itu. Baru kali ini Shilla bener2 sinis dan tajam saat berbicara sama Alvin.
“maaf Shill!” lirihnya.
“hah? Haha! Bodo !” entah mengapa Shilla tertawa seperti itu. Membuat Alvin semakin perih medengarnya. Shilla tak suka, dia tak suka cara Alvin yang seperti ini, kalau Alvin menyayanginya, Alvin kan bisa menyatakannya langsung, tidak perlu dengan sembunyi2 merekam aktivitas Shilla, dan memfoto Shilla dengan sembunyi pula.
Bahkan sampai menyewa orang untuk melihat keadaannya saat Alvin sedang tidak bisa menjaganya dari jauh.
“lo PENGECUT tau ga ??” maki Shilla, Alvin semakin panas mendengarnya, ahh, apa ? Shilla bilang bahwa Ia pengecut.
Alvin menahan rasa sesaknya dan berjalan kehadapan Shilla. Memandangnya dengan banyak arti . Shilla memalingkan wajahnya, tolong,, jangan tatap dia seperti itu, Shilla tak sanggup dilihat seperti itu..
“maaf ….” Lagi2 hanya maaf yang terlontar dari mulut Alvin. Dengan perlahan Alvin melipat kakinya di depan Shilla, ya , dia berlutut dihadapan Shilla, sambil menunduk.
Shilla melihat Alvin, ada perasaan kasihan juga Ia melihat Alvin seperti itu. Namun ia masih emosi. Dan kembali tersenyum miring.
“Shill, plis maafin gue, gue emang pengecut,, maaf ,, maaf banget Shill!” Lirih Alvin. Entah sudah berapa kali ia berkata maaf pada Shilla. Shilla masih diam meskipun sekali lagi, ia merasa Iba pada Alvin.
Dengan perlahan juga Alvin mengambil tangan Shilla dan digenggamnya. Lalu dengan perlahan juga Ia mencium tangan itu. Shilla kaget dengan perlakuan Alvin barusan.
“Vin?” panggilnya kaget.
“gue emang pengecut, gue ga pernah berani ngungkapin perasaan gue ke elo ! maaf Shill! Maaf, gue sayang sama lo! harusnya rasa ini ga pernah ada, gue ga pantes sayang sama elo !” jelasnya sambil menatap Shilla. Masih sama dengan keadaan tadi. Berlutut.
“Alvin!” panggilnya lagi. Alvin malah menunduk. Dia tau pasti, bahwa tadi , perlakuannya bisa membuat Shilla tambah emosi.
Hey, tapi kenapa ?? itu terlihat sangat tulus bukan?? Sumpah , Alvin tak berniat apapun!
“maaf …” dan entah mengapa, bibirnya berucap itu lagi. Shilla bosan mendengarnya.
Shilla menatap Alvin yang masih saja menunduk. Tak berani menatap Shilla. Tapi bibirnya terus saja mengucap maaf,,
“gue bakal cium kaki lo, biar lo maafin gue! “ tegasnya. Membuat Shilla jadi bingung dan kaget. Shilla membelalakan matanya. Entah mengapa, mulutnya tak bisa memaafkan Alvin, padahal kalau menurut penulis, Alvin ga salah *menurut elo kan !! :P
“Alvin berdiri !” suruhnya dengan nada datar.
Alvin malah semakin menunduk kearah kaki Shilla. Membuat Shilla melotot melihat tindakan nekat Alvin. Dia rela melakukan apa saja, agar Shilla mau memaafkannya. Bahkan sampai mencium kaki Shilla, itupun Ia lakukan*wow!
“Alvin berdiri !” kali ini sedikit bernada, membuat Alvin sedikit tersentak.
Namun tetap, Alvin bertahan pada posisinya seperti itu, dia tak mau kali ini Shilla mengecapnya sebagai pengecut atau pecundang dan kawan2nya.
“ALVIN BERDIRI GUE BILANG!!!!!!!!” bentaknya. Tapi Alvin malah tersenyum dan masih saja keukeuh pada posisinya itu. Dan malah semakin menunduk.
Shilla mundur saat wajahnya Alvin hampir mendekati kakinya. Membuat Alvin menghela nafasnya.
Alvin diam pada tempatnya. Shilla memandang Alvin sinis.
“ALVIN BERDIRI ATAU GUE GA AKAN MAAFIN LO SELAMANYA !!!” bentaknya lagi. membuat Alvin bereaksi, wajahnya terangkat dan melihat Shilla.
“tapi Shill, lo mau ma …” lagi2 ucapan Alvin dipotong Shilla.
Shilla ikut berjongkok lalu menarik Alvin agar berdiri. Meskipun Shilla sedikit kasar melakukannya.
PLAKKKK
Tamparan telak mendarat dipipi Avin. Membuat pipinya semakin panas. Shilla menamparnya sangat kencang. Pipi Alvin yang putih pun jadi merah. (tega banget sih Shilla !)
“LOE BEGO VIN!” bentaknya.
JEDERRR
Apa yang baru Shilla bilang tadi, benar2 membekas di ingatan Alvin, Alvin kembali menunduk sambil memegang pipinya.
“maaf Shill,, gue sayang sama lo !” lirihnya lagi. ahh, sudah cukup, Shilla tak mau lagi mendengar Alvin mengucapkan kata maaf terus.
“cukup Vin ! muak gue denger permintaan maaf dari lo!!” bentaknya.
Hey, Shilla siapa bisa membentak-bentaknya seperti itu ??? Alvin tidak peduli meskipun semua orang mengiranya lemah karna Shilla. Karna sampai kapanpun, Shilla akan slalu jadi yang pertama dihatinya. Mungkin itu alasan kuat Alvin mengapa Ia bisa fine-fine aja dibentak2 dari tadi. Meskipun hatinya, ahh, panas dan sakit sekali medengar semua itu.
“Hape lo ???” Shilla menjulurkan tangannya kearah Alvin. Alvin langsung mengambil HPnya, tanpa basa-basi pula Ia memberikannya ke Shilla.
Shilla mengambil HP itu dengan kasar. Memperlihatkan senyum miringnya ke arah Alvin sambil menunjukkan HPnya. Entahlah mengapa ,, Alvin tidak peduli, yang jelas , dia tidak tahan melihat Shilla tersenyum seperti itu untuknya. Terlalu sakit untuk dilihat.
Shilla melepas silikon HP BB Alvin. Membuangnya entah kemana. Alvin menatap semua yang dilakukan Shilla pada HPnya itu, dengan miris.
Dengan sekejap Shilla menjatuhkan HP Alvin.
BRAK
Handphone itu hancur , cashingnya sudah tak berbentuk, ditambah dengan Shilla yang dengan kasar menginjak-injak HP itu. Sekali lagi, Alvin hanya menatap semua itu dengan miris. Sepertinya , dia tak punya kuasa untuk mengambil dan menyelamatkan HPnya.
“Shill …….” Alvin bergantian menatap HPnya yang sudah hancur juga Shilla. Shilla hanya tersenyum miring.
“gue bakal ganti,, tapi inget, jangan ada satupun foto gue didalem hp lo !”
Shilla berbalik badan dan berniat pergi..
“Shill!” Alvin menarik tangan Shilla hingga Shilla terpaksa berbalik kehadapnya. Dengan tanpa ba-bi-bu-be-bo Alvin langsung memeluk Shilla. Tak peduli dengan apa yang akan Shilla lakukan padanya nanti.
Ia membiarkan kali ini dia yang berkuasa. Setelah tadi Shilla puas menyindir dan memaki Alvin , menampar juga menghancurkan HP Alvin, Alvin pikir itu semua sudah membuat Shilla lega dan amat puas. Juga Alvin yang tadi amat sangat merendahkan dirinya. Tidak ada salahnya juga, memeluk Shilla seperti ini, semoga Shilla mengerti, mengapa Alvin memeluknya. Shilla spontan melotot, namun setelah itu dia diam menunggu Alvin melepaskan pelukannya.
Namun Alvin tak kunjung melepaskan pelukannya, Ia malah mengeratkan pelukannya pada Shilla.
Masalah … masalah bisa datang dengan tiba2, tanpa dikira-kira, dan bisa menimbulkan rasa sakit saat menghadapinya. Masalah tidak hanya dilihat dari satu sudut pandang,, ada yang menganggap bahwa si pelaku tak salah, atau ia sangat salah, ada yang bilang juga dia sedikit salah dalam hal ini, maka dengarlah, ketahuilah, kita semua berbeda, mata kita berbeda meski sama untuk melihat, tapi hati dan nurani kita berbeda dengan orang lain.
Ini manusiawi, hanya saja , fatal bila seseorang itu menganggap si pelaku sangat salah, hingga menghukumnya amat berat, tanpa tau mengapa si pelaku melakukannya. Biar aku beritahu,,, jangan pernah mudah menyimpulkan sesuatu,, jangan mudah terhasut sesuatu, karena semua yang kita duga dan kita kira tidak selalu benar.
Sekali lagi, peristiwa AlvinShilla diatas memberi kita sebuah pelajaran, Shilla salah, menyimpulkan bahwa Alvin terlalu berlebihan terhadapnya, dia tak taukan , seberapa besar cinta Alvin padanya, dia juga tidak tau, selama ini Alvin harus menanggung sakit saat melihatnya harus bermesraan dengan Rio dan kekasihnya yang lain.
Mungkin ini cara Shilla, bahkan Alvin pun tak bisa melakukan apapun ,, dihadapan Shilla dia lemah, iya kan ?? kalian pasti tau itu.
Aku harap kalian tidak seperti Shilla, semoga saja, masalah bisa dilihat dari berbagai sudut pandang, semoga kalian bisa menanggapinya dan menyelesaikannya dari sudut pandang yang baik.
Dan semua ini berdasarkan perasaan kita,, Shilla hanya tak suka dan akhirnya marah,, itu semua hanya egonya yang bicara. Bukan hati dan perasaannya.
Egokah Shilla ???
###############
Rio panas dari tadi menunggu Ify dari luar ,, entah mengapa Ia kesal berlama-lama disini . ingin masuk, oh tidak, ia tidak ingin menjadi lalat didalam.
Ahh, tapi Ia malas menunggu diluar. Sudahlah, Ifypun pasti tak akan marah bila Ia masuk kedalam, meski Rio harus terima resiko , jika Ia masuk kedalam, Ia akan jadi kambing congek.
Rio membuka pintu ruang kamar itu, agar tidak menimbulkan suara berisik.
Setelah masuk Rio mengedarkan pandangannya kearah Ify dan Gabriel.
“jiaah, daritadi gue nunggu, mereka malah tidur!” gumam Rio seraya berjalan mendekati Ify yang sedang tertidur disamping Gabriel. Sekilas wajahnya amat lelah, tapi tetap damai.
Rio tersenyum kecil melihat Ify . lalu mengalihkan pandangannya kearah Gabriel. Dan menatapnya tanpa ekspresi.
Rio segera menggendong Ify ,, niatnya ingin memindahkan Ify kesofa , biar Ify lebih enak aja gitu tidurnya, dengan perlahan rio meletakkan tubuh Ify disofa panjang , lalu mengambil selimut di lemari rumah sakit yang ada disana.
Rio menyelimutkan Ify hingga sebatas leher. Sepertinya Ify tidur sangat nyenyak , hingga tak sadar Rio sedang menyelimutinya.
Rio masih terdiam. Bingung mau ngapain. Akhirnya dia memutuskan untuk beranjak kekamar Shilla, pengen tau juga keadaan Shilla.
Sebelum pergi Rio melihat Gabriel, dan membatin.
‘gue harap lo buka saingan gue!‘ batinnya dan langsung pergi dari ruangan itu.
Namun sebelum melangkah, Rio sudah dikejutkan dengan sesuatu. Dengan tiba2 Ify mengigau, sepertinya dia mimpi buruk. Dahinya berkeringat. Rio langsung menghampiri Ify.
“ja .. jangan ,, jangan ..” igau Ify membuat Rio sedikit bingung. Rio menampar pelan pipi Ify ,,
“Fy, Fy, bangun,, lo, kenapa ,, Fy !” panggilnya terus memukul-mukul pipi Ify. Ify terus berkeringat. Wajahnya pucat.
“jangan ,, aa, ja .. jangann !!!!!!!!!” teriaknya dan spontan bangun. Rio langsung mengambil minum di kulkas disana , lalu menyuguhkan ke Ify.
“hosh, hosh, hosh ..” nafas Ify terengah-engah saat ini. Rio menunggu Ify mengatur nafasnya.
Setelah selesai mengatur nafas, Ify mengambil botol minum yang tadi di julurkan kearahnya.
“tu ,, tuan Rio kok disiini ??” tanya Ify setelah selesai menegak minuman itu.
“abisnya males nunggu diluar,, eh pas gue masuk , lo malah tidur, eiya, lo kenapa Fy? Mimpi buruk ??” tanya Rio diakhir kalimatnya.
Ify malah terdiam , teringat mimpinya itu,, lalu malah menangis.
“hiks, hiks, sa .. saya ,, takut ,, hiks !” katanya terisak. Rio malah pengen ketawa ngeliat wajah Ify yang ga ada dramatis2nya kalau lagi nangis.
“takut kenapa ??” tanya Rio penasaran.
“ahh, pokoknya takut !!” Ify malah manja2 gitu.
Rio terkekeh dan mengangkat bahunya.
“tuan,,, boleh peluk ??” tanya Ify. Rio terkaget-kaget mendengar permintaan ify barusan,, aneh2 aja, masa meluk minta .. dasar polos.
“hah?? Kenapa ?? lo ketagihan ya dipeluk gue ??” tanya Rio menggoda.
“Ihh, serius tuan,, saya lagi ga bercanda.” Kata ify pura2 ngambek.
Rio malah setengah tersenyum melihat Ify.
“yaudah sini ! dijamin menghangatkan !! hahay !!” katanya langsung menarik Ify kedalam pelukannya. Bedanya kali ini , wajah Ify didada Rio. Ify membenamkan wajahnya disana. (enak ya Ify, dipeluk Rio tinggal minta ! )
Rio masih saja memeluk Ify, pelukan yang tidak berarti apa2 sebenarnya, tapi Ify senang, karena paling tidak, rasa takutnya tentang mimpi buruknya tadi, hilang begitu saja, kala Ia berada didalam dekapan Rio.
Rio tersenyum kecil, dan mengelus rambut Ify. Sama seperti layaknya seorang kakak ke adik,, meskipun sebenarnya mereka seumuran *aslinya sih Rio lebih muda :P
Ify masih diam, mereka masih diam dalam posisi seperti itu, karena Ify yang memang lelah, tak sengaja tertidur di dada Rio. Rio yang menyadarinya langsung melepaskan pelukannya dan langsung kembali menyelimuti Ify.
Ia langsung keluar dari ruangan itu, berniat menjenguk Shilla.
########
Cakka sebel banget nih kalo udah kayak gini, si Alvin ngilang gatau kemana, diteleponin gak aktif *yaiyalah,orang hpnya ancur.
“ihh, Si Alvin ama Shilla kemana sih!!’ gerutunya karena tidak menemukan Shilla juga.
Rio datang tanpa permisi.
“ehh, Cakk, pada kemana ??” tanya Rio bingung, karna ketika masuk, ia tak mendapati AlShill.
“nah justru itu, ngeselin banget tau ga sih mereka !” dumel cakka.
“yaudah , tunggu aja , paling nanti balik, mending kita ngeteh di kantin aja,,” ajak Rio.
“yaudah yu, biarin aja tuh berdua pacaran ,,” Rio terkekeh dan kemudian mengikuti Cakka yang sudah berjalan lebih dulu.
Sementara ditaman.
Alvin masih tak melepaskan pelukan itu, masih, masih saja. Dengan erat pula.
Shilla agak sesak karena Alvin memeluknya terlalu kencang. Ingin mendorong, tapi dia hanya perempuan, yang dibanding Alvin kekuatannya kalah kemana-mana ,,
Taukah Shilla, bahwa sekarang ini Alvin sedang, sedang ,, menitihkan air matanya, meski tanpa sebuah isakan. Air matanya meluncur mulus. Sakit, sakit sekali rasanya jadi Alvin. Itulah yang membuat Alvin sesak.
Tiba2 entah dari mana , atau hanya pikiran Alvin , terdengar sayup2 lagu , sebuah lagu yang sangat menggambarkan dirinya kini.
Lihat ku disini
Kau buat ku menangis
Kuingin menyerah
Tapi tak menyerah
Kucoba lupakan
Tapi ku bertahan
Kau terindah
Kan slalu terindah
Aku bisa apa tuk memilikimu
Kau terindah
Kan slalu terindah
Harus bagaimana ku mengungkapkannya
Kau pemilik hatiku
Mungkin lewat mimpi
Kubisa tuk memberi
Kuingin bahagia
Tapi tak bahagia
Kuingin dicinta
Tapi tak dicinta
Kau terindah
Kan slalu terindah
Aku bisa apa tuk memilikimu
Kau terindah
Kan slalu terindah
Harus bagaimana ku mengungkapkannya
Kau pemilik hatiku
Segitunyakah ??? seindah itukah Shilla dimata Alvin?? Sepertinya …
Alvin memejamkan matanya, meresapi setiap bait lagu itu, sambil ikut menyanyikannya dalam hati. Dengan Air mata yang sedikit membasahi pipinya.
DEG
Lagu yang juga Shilla dengar membuatnya, merasa aneh. Dan tiba2 saja perutnya sangat sakit, mungkin Alvin lupa bahwa kata dokter, bila Shilla sampai tidak makan lagi, akan membuat penyakitnya semakin parah .
“Vin,, le .. lepas!” katanya terbata. Tidak kuat menahan sakit itu. Juga keringat dingin yang mulai bercucuran.
Entah tidak dengar atau tidak mau, Alvin masih saja memeluk Shilla.
Shilla mengumpulkan sisa kekuatan dan kesadarannya agar Alvin mendengar ucapannya.
“V .. Vin ,, le .. lepas! Sa .. sakit!” katanya sekali lagi. Terdengar seperti rintihan. Bahkan Ia sudah tak dapat melihat jelas.
Mendegar rintihan Shilla, Alvin segera melepas pelukannya dan langsung melihat Shilla yang separuh kesadarannya sudah hilang.
“Shill, Shill ! Shilla !!!!” panggilnya kaget, saat Shilla terjatuh, untung berhasil Ia tangkap.
“Shilla!!” panggilnya lagi. karena Shilla stengah sadar, dia hanya bisa merintih.
“sa .. sakit!!!” Rintihnya.
Alvin memutuskan untuk membawa Shilla kedalam ruangannya. Setelah menggendong Shilla sampai dikamarnya, Alvin menidurkan Shilla dikasur. Dan segera memanggil dokter.
Alvin menunggu Shilla diluar sambil membenamkan wajahnya dikedua tangannya. Apa yang baru Ia lakukan tadi,, itu semua gila! Ahh, Alvin, lo gilaaaa!!, batinya merutuki dirinya sendiri.
Tiba2 , Rio, Ify dan Cakka datang karena memang niat mereka untuk menjenguk Shilla. Ify sudah diceritakan sama Rio tadi Shilla kenapa. Jadi dia langsung kesini.
Mereka bingung melihat wajah Alvin yang, kusut banget.. sambil terus mengacak2 rambutnya*tetep ganteng kok Vin,, hehe
“Vin, Shilla kenapa lagi ???” tanya Ify panik.
Alvin yang memang tidak menyadari kehadiran mereka bertiga, langsung menoleh kaget.
“ehh, kalian sejak kapan disini ?” tanya Alvin basa-basi, tidak ingin memperlihatkan stressnya.
“basi lo Vin! Dari lo ngacak2 rambut lo kayak orang gila !!” jawab Ify sinis.
Alvin nyengir dan cengengesan.
“heuh, Shilla kenapa lagi ??” tanya Ify lagi. Rio dan Cakka hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Tanda sama juga bertanya seperti Ify.
“emm, maagnya kambuh Fy!” jelasnya.
“nah, gini nih, tadi lo minta gue buat beliin makan, tapi pas gue ngasih makanannya ,, lo malah ngilang,, kemana lo ?? pacaran ama Shilla ??”tanya Cakka asal jeplak.
Alvin tersenyum lagi. dan menggeleng.
“terus kemana ??” tanya Rio kali ini.
“emmm ..” sepertinya sekarang Alvin beruntung, dokter langsung keluar jadi Alvin tidak perlu menjawab pertanyaan Rio.
Semuanya berjalan kearah dokter.
“mag Shilla sudah parah, terpaksa harus minum obat, tapi dia sudah sadar kok! Bisa dijenguk. Ini resep obatnya..” dokter itu menjelaskan. Semuanya hanya mengangguk dan Rio mengambil kertas tebusan itu dan segera berjalan ke bag. Administrasi, namun ditahan Alvin.
Rio mengangkat alisnya tanda bertanya.
“biar gue aja ,, Yo!” katanya. Rio dengan ragu memberikan kertas itu pada Alvin, aneh mengapa Alvin memintanya seperti itu. Sepertinya Alvin sedikit menghindar dari Shilla. Entahlah.
Alvin mengambilnya dan langsung pergi ke tempat pengambilan obat.
-BERSAMBUNG-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar