Egokah Aku ???? –part 3-
@Shilla’s home
Ify berjalan masuk ke dalam rumah.
“asalamualaikum,,” sapanya.
“walaikumsalam, eh Ify ko udah pulang ??? libur ???” tanya mama Shilla seraya mengajak Ify masuk.
“engga tan, Ify mau ngomong nih!!” kata Ify sambil duduk disofa diikuti mama Shilla yang duduk berhadapan dengannya.
“oh, ngomong2 ajalah, gausah minta ijin segala.”
“Shilla mana ya tan ?” tanya Ify sambil celingak celinguk nyari Shilla, karena menurutnya Shilla perlu tau hal penting ini.
“ada tuh dikamar, Shillllaaa!! Shillaaaaa!!!” panggil mama Shilla teriak2.
Shilla yang merasa dipanggil langsung keluar dari kamarnya dan mendapati Ify sudah ada disana.
“eh Ify, udah pulang loe ???” tanyanya sambil menuruni tangga.
“duduk Shill, gue mau ngomong,” suruh Ify ketika Shilla sudah berada tepat dilantai dasar.
Shilla pun duduk, mendengar suruhan Ify yang terdengar serius itu.
Ify menghela nafas, sebenarnya ini tidak terlalu penting, namun Ify tetap saja gugup mengatakannya.
“tante, atasan Ify, minta agar Ify tinggal dirumahnya, karna dia sangat butuh pekerja untuk mengurus …..” Ify menghela nafas.
“adiknya …” lanjut Ify.
“jadi, kamu akan tinggal dirumah atasan kamu itu ???” tanya mama Shilla.
“atasan Ify suruh Ify minta izin dulu ke tante, tante boleh ga ??” pinta Ify sedikit berharap.
Padahal aslinya males banget mesti ngurusin Rio, ‘the silent boy’ yang manja itu, batin Ify menggerutu.
“berapa lama kamu akan tinggal disana ??” tanya mama Shilla mulai mengizinkan.
Sementra Shilla hanya menyimak mendengarkan, dan ingin tau, rumah siapa yang akan ditempati Ify nanti.
“untuk waktu, Ify kurang tau tan, tapi kayaknya sih cukup lama, “
“memangnya atasan kamu itu siapa ??”
“namanya kak Sivia ….”
Mendengar namaya saja, Shilla sudah kaget, kalau tinggal dirumah kak Sivia berarti …. Berarti …., batin Shilla kaget.
“namanya kak Sivia, dia minta Ify untuk menjaga adiknya, namanya …..” ucapan Ify menggantung, ia melirik Shilla sebentar, yang sudah menatapnya penuh tanya, mama Shilla masih menunggu penjelasan dari Ify.
“namanya ,, mario !!” lanjut Ify masih tetap melirik Shilla yang sedikit membulatkan mulutnya.
‘maaf Shill, gue ga maksud’ batin Ify lirih.
“mario?? Mario stevano ??” tanya mama Shilla yang memang sudah tau mario itu siapanya anaknya, namun hanya ingin memperjelas saja, barangkali bukan mario itu.
“iya tan , jadi boleh ga??”
Benarkan tebakan mama Shilla. Mama shilla menimbang-nimbang sambil melihat ke arah Shilla yang sedang menunduk.
Udahlah, Shill, itu udah lalu, batin Shilla lagi, masih menggigit bibirnya.
“Shill,” panggil sang mama.
Shilla menoleh dan tersenyum,, paksa.
“gimana ? kamu setuju gak ??”
“hah, ya itu terserah Ify dan mama aja, Shilla sih oke2 aja.” Shilla salting dan kembali tersenyum paksa.
“kamu yakin??” tanya mama Shilla lagi.
“yakin lah, memangnya ada yang salah.”
“enggak sih, tapi …. Yaudahlah, Fy, kamu tante bolehin tinggal dirumah majikanmu itu, asal ga mengganggu sekolah kamu.”
“bener tan??” tanya Ify antusias, gatau kenapa, dia seneng juga.
Mama Shilla mengangguk.
“iya , tapi awas, kalo tante dapet surat panggilan dari sekolah yang meyatakan kamu bolos lho!!”
“siippp!! Yaudah , Ify beres2 baju dulu ya tan. Shill,”
“ya ?”
“doain gue ya.”
“hah, maksudnya ??” Shilla bingung sendiri, ngapain Ify minta doain, emang mau perang apa.
“haha, becanda, lo mau bantuin gue ga , beresin baju??” Tanya Ify ketika sudah sampai anak tangga ke tiga.
“yaudah, ayo!!”
Shilla pun segera menaiki tangga dan ikut masuk kekamar Ify untuk membereskan baju Ify.
#####
Setelah packing semua yang diperluin, Ify langsung pergi kekantor dan menyatakan setuju untuk ‘menginap’ dirumah Sivia a.k.a Rumah Rio.
“kalian setuju???” tanya Sivia antusias kepada 2 orang dihadapnnya ini.
Mereka berdua mengangguk sambil tersenyum.
“wuaaahh, saya terima kasih banget kalian udah mau terima tawaran saya, dijamin dirumah saya, kalian akan diperlakukan baik oleh semuanya, kecuali …… Rio, ya, kalian tau sendirilah gimana sifatnya dia, tapi kalian ga usah pikirin dia biarin aja, dan kamu, Ify, kalo Rio ngapa2in kamu, bilang saya ya. Gausah takut2 ya.”
Ify dan Oik lagi2 mengangguk.
“Oik , kamu juga akan saya pindahkan ke sekolah yang sama dengan Rio, kamu juga, Fy.” Kata Sivia.
“ka, saya udah disekolah yang sama, sama tuan Rio.” Kata ify takut2, takut dikira nyamar, masa cleaning service bisa sekolah di sekolah bagus itu.
“waahh, bagus dong. Pintar banget kamu bisa masuk sekolah itu, Rio aja harus tes MIPA, tes aljabar dulu, tes komputer, tes pembukuan, tes psikotes, (mending ada tes itu semua, ini Cuma khayalan penulis aja, hehe) tes beribu-ribu tes dulu baru bisa masuk sekolah itu, meskipun bayar , tetep aja butuh kemampuan otak yang tinggi dan IQ yang tinggi, berarti tinggal kamu Oik.” Jelas Sivia mengalihkan pandangannya ke Oik.
GLEK, Oik menelan ludah. Mendengar harus banyak banget ikut tes aja, dia udah ga minat mau masuk sekolah itu.
“gausah ka, saya gausah pindah sekolah.” Kata Oik sambil menggeleng.
“lho kenapa?? Semua biaya akan ditanggung oleh saya, dan saya dengar, kamu sekolah di SMAN 1, sekolah itu kan muridnya pintar2 dan banyak memenangkan lomba, saya yakin kamu bisa lolos tes di SMA DB, lagipula, rumah saya sama sekolah kamu sangat jauh, kalau naik angkot, bisa 3 kali naik baru nyampe, tapi kalau kamu sekolah di DB, saya akan bilang Rio untuk mengantar kalian berdua, gimana ?? mau ga ??”
Mendengar penjelasan Sivia yang memang benar itu, Oik jadi ga bisa nolak, masalahnya sekolah dia emang jauh banget sama rumah Sivia, jadi gimana dong ???
Udahlah, Ik. Ikut aja, toh dibayarin ini#hasutpenulis(abaikan.)
Oik masih menimbang-nimbang, dia males banget kalau harus ikut tes lagi, apalagi tesnya lebih banyak dari sekolahnya dulu, mengingat juga, betapa susahnya dia masuk SMAnya dulu, dan sekarang harus tes lagi, kalo masuk, kalo engga, malu bangetlah.
“mau ya ??” pinta Sivia melas. Dia ga mau pelit sama bawahannya ini, dan hitung2 membalas budi, karena mereka udah mau kerja dirumahnya.
“mmm,” Oik ragu banget, dia melirik sebentar kearah Ify yang menatapnya seakan berkata ‘udah, ikut aja, biar gue ada temennya’
“yaudah deh ka,” jawab Oik lemes.
“yasudah , jangan buang2 waktu, keluarga haling akan ada makan malam nanti mempringati keluarnya papa dari rumah sakit kemarin. Dan rekan2 kerja papa yang diundang, sebagian tamu dari Singapure dan Jerman, dan juga akan ada beberapa teman mama dari Dilli, Tokyo dan Swiss (yang ditokyo mau ngungsi kali, hehe), jadi kita harus berbelanja dulu di mall, Oik, kamu yang menyiapkan dekor meja makan sebagus mungkin, semewah mungkin, juga ruang tamu yang nanti akan jadi pusat acara, minta sama bang Adan untuk membeli bunga dan sejenisnya untuk dipajang diruang tamu, juga suruh dia pindahkan lukisan2 yang jelek dan kamu beli lagi lukisan2 yang bagus, pajang disetiap sudut ruang tamu, rapikan ruang tamu itu secantik mungkin, saya percaya sama kamu.” Suruh Sivia banyak banget, yang bikin Oik nelen ludah lagi, baru juga masuk , udah sebanyak itu tugasnya.
“dan kamu Ify, tugasmu membeli makanan dimall dan restroran paling mahal di Jakarta, saya ga mau tamu papa dan mama tidak puas dengan hidangan yang disiapkan, kamu nanti pergi bareng Rio karena saya masih ada meeting di Bali dan saya akan balik nanti jam 7. ingat, saya kembali kesini semua sudah siap, nanti rio akan memberi tahu kamu menu apa saja yang akan dihidangkan, kurang lebih, kepiting, bebek bakar, bisteak, dan masih banyak lagi, pokoknya kamu tanya aja sama Rio, dia yang tau menu2nya. Saya yakin kamu bisa ngelaksanain itu semua, saya pergi dulu, jam setengah 3 pesawat udah landing, jadi saya harus segera pergi oke, nanti pa Temon akan menjemput kalian , tunggu aja.” Sivia berlalu dari sana meninggalkan Ify dan Oik yang menganga saking banyaknya tugas mereka, ini baru hari pertama , gimana hari selanjutnya ya.
Dan juga Sivia, itu orang ga ada capeknya ya, masa meeting di Bali, perjalanan Bali-Jakarta kan lama, belum meetingnya, belum balik laginya, emang cukup Cuma 4 jam, kayaknya engga deh, batin Ify dan Oik yang bener2 salut sama Sivia yang ga ada capeknya itu.
Karena mendengar panggila resepsionis yang mengatakan mereka sudah ditunggu dibawah, Ify dan Oik segera turun, dan setelah itu melesat dengan Jaguar Hitam itu.
#####
Ify dan Oik disuruh pa Temon taro barang2ya dulu di rumah Rio, dan sekarang mereka udah ada di depan rumahnya Rio.
Hoalah, bener kata Oik waktu itu, rumahnya teh gede bener udah kayak rumah presiden. Bahkan penjelasan Oik yang lebay itupun ga lebih lebay dari apa yang dilihatnya sekarang. Ify masih menatap rumah itu takjub, bahkan rumah Shilla yang ditinggalinya selama di Jakarta ini, kebanting kemana-mana. Jaguar Hitam itu memasuki rumah besar itu dan memasuki garasi mobil, sebelum itu, Ify dan Oik udah turun dan benar2 takjub melihat rumah itu, rumah impian, gumam mereka berbarengan.
Ify mengedarkan pandangannya keseluruh beranda rumah itu, ada yang beda sepertinya dari penjelasan Oik, tepatnya pada garasi, dari hongkong mobilnya Cuma empat, mobilnya ada 11. Jaguar 2, VERARRI 2, BMW 4, Mercedes Benz 2 dan Porsche 1.
‘hah, pingsan deh gue’ batin Ify lebay.
Ditambah Ify melihat banyak banget pekerja disana, dari mulai satpam sampai pembatu, katanya kekurangan orang, tapi banyak banget begini.
Para pembantu disana berjajar memberi hormat pada mereka berdua, tadi pagi Sivia sudah bilang bahwa ada 2 orang yang akan kesini, jadilah mereka berjajar seperti itu untuk menyambut kedatangan Ify dan Oik. Pak Temon keluar dari mobil dan menghampiri para pembantu itu dan juga para satpam.
“perkenalkan, mereka berdua adalah pembantu baru disini, mereka berdua akan tinggal disini selama jangka waktu yang cukup lama. Ayo perkenalkan diri kalian.” suruh Pa Temon.
“saya Alyssa Saufika Umari,” kata Ify sambil tersenyum.
“saya Oik Cahya Ramdlani” Oik juga tersenyum.
“baik alyssa, Oik, saya pa Temon, supir di sini, tugas saya mengendarai Jaguar Hitam”
“saya pak Danu, supir juga disini,saya mengendarai Jaguar Silver”
“saya Pak Bowo, supir, saya BMW merah”
“saya pak Andi, supir, saya BMW Hitam”
“saya pak Bian, supir, saya BMW Silver”
“saya pak Dewa, supir, BMW biru”
“saya pak Levi, supir, Mercedes benz ungu”
“saya pak nasirin, supir, Mercedes Benz hitam”
“saya pak ramlan, supir, Verarri kuning”
“saya pak oman, supir, Verarri merah”
“dan saya pak David, kepala supir disini, porsche hitam”
Gilaa, sopir aja satu2 , OMG, Ify sampai keringat dingin melihatnya.
“saya, ina, pembantu di sini”
“saya dian, “
“saya roro”
“saya tika”
“saya dea”(buka Dea IC lho ya)
“saya riva”
“saya dono, tukang kebun”
“saya Adan.”
“saya bu Dina, kepala pembantu, mari ikut saya, kalian berdua sudah diberi tugas bukan oleh Nona Sivia, kalau begitu segera laksanakan, dea, tika, bawa barang2 mereka ke kamar yang sudah disiapkan, Oik, mari kita belanja ke toko bunga yang sudah ditugaskan Nona Sivia, dan Alyssa, tuan Rio ada didalam kamarnya, permisi.” Bu Dina menarik tangan Oik ke garasi mobil dan segera memanggil pak Temon untuk menyupir mereka.
Sementara Ify, perhatiannya agak tersita dengan semacam rumah kecil yang pernah diceritakan Oik dulu, rumah yang depannya bertuliskan ‘private room’. Menyadari semua pekerja dirumah itu telah kembali ke pekerjaannya masing2, Ify memutuskan untuk masuk ke rumah kecil itu. Dengan jalan pelan2 dan mengendap2 agar sang tukang kebun tak melihat akhirnya berhasil juga.
8 langkah …. 5 langkah … 1 langkah …
HAAPP .. Ify berhasil meraih kenop pintu kayu itu, tapi ……
‘buka ga ya , buka ga ya … ah udahlah , buka aja .’
Ify mendorongnya sedikit agar dapat terbuka, lagi2 …
“ngapain kamu alyssa? Sana cepat temui Tuan Rio dan segera berbelanja, waktu kita tak banyak.” Tukas mba Roro, salah satu pembantu disana dengan tatapan tajam amat seram.
Ify terkesiap dan langsung melepaskan pegangannya pada kenop pintu itu. Dan menatap mba Roro ragu2.
“ba .. baik mba .” Ify langsung berlari kecil menuju kedalam rumah, lebih tepatnya kamar Rio.
Ify melihat-lihat isi rumah itu yang hampir semuanya dari permata, guci2 besar tertata dengan sangat sempurna di setia lekuk ruangan itu. Beberapa pajagan dari permata dan keramik mahal juga berjajar rapi dalam satu lemari pajang. LCD Televisi yang amat besar tertempel pada sebuah dinding, lukisan2 mahal yang bergambar simple dan abstrak terlihat begitu damai tergantung di sudut2 dinding bercat putih itu, tak ada sedikitpun coretan yang tergores disana. Sofa empuk berwarna keemasan di atur sedemikian rupa agar menjadi strategis, meja kecil bening terletak ditengah2 sofa itu. Juga karpet berwarna merah ala karpet terbang aladin dengan motif kearab2an yang menghiasi ubin2 keramik mahal itu, dan di dekat akuarium , ada semacam dinding dari batuan glosial dan air yang terus meluncur turun kebawah, seperti di sebuah restoran kebanyakan, batin Ify takjub. Juga beberapa foto keluarga di menara Eifeel (bener ga tulisannya, kalau salah dimaklumi ya , hehe) ketika berlibur ke Paris, foto mereka yang berada di tembok China ketika berlibur pula, foto mereka di musim salju di Singapure, sampai foto sivia yang sedang memetik bunga sakura di Jepang. Semuanya dipajang disana. Sepertinya keluarga ini keluarga yang hangat, batin Ify miris, karena memikirkan keluarganya yang sekarang tersisa hanya dia saja, sungguh ia Rindu pada Ibu dan ayahnya.
Ify mengalihkan pandangannya kearah tangga,
‘buset , tangga aja ada karpetnya, emang ini istana kerajaan kali ya ??’ batinnya lagi2 takjub.
“mba, kamar tuan Rio dimana yah ??” tanyanya pada salah satu pembantu yang sedang bersih2 disana.
“oh, kalau kamar tuan Rio ga disini, dirumah belakang” terang pembantu itu yang membuat Ify melengos kesal. Ngapain dari tadi dia disini kalau kamarnya Rio aja adanya di rumah belakang.
“yah, berarti kalau mau jalan kebelakang lewat mana ya mba ??”
“kamu lurus, ketemu dapur, kamu lewat dapur aja, disana nanti ada jalan kecil, nah kamu lewat situ aja, rumah yang berhadapan sama kamu nanti, disitu ada kamar Tuan Rio.” Jelas pembantu itu lagi.
Meskipun agak ribet, Ify ngerti juga sih,
“makasih ya mba.” Ify langsung berlari kecil menuju ketempat yang dimaksud, menyadari suda jam 3 lewat 45 dan ia belum sama sekali berbelanja.
‘huh’ Ify melengos, mungkin dia harus minta denah rumah ini kali ya. Abis rumahnya gueeedee buangettt.
Ify memasuki rumah itu, lagi2 ia takjub melihat tataan rumah yang begitu sepi itu, berbeda dari rumah depan, disini lebih nyaman, sedikit remang2 dan sunyi. Sofa made in Aussie (emang ada??) yang kini ada dihadapannya berwarna abu2. Tak ada meja yang menghiasi, tak ada lukisan apapun, tak ada guci2 besar seperti tadi, hanya ada satu piano putih disalah satu sudut rumahnya. Disini juga ada beberapa pajangan, tapi bukan keramik2 dan beling2 seperti di rumah depan, pajangan ini seperti biola kecil, semacam mainan yang kala dibuka akan terdengar alunan musiknya (itu namanya apasih?) dan juga mobil2an lucu dan beberapa foto dengan bingkai bermotif kanak2.
LCD TV yang tertempel pula didinding rumah itu. Juga kaca yang membatasi ruang tamu ini dengan ruang tengah yang ga tau deh, Ify males ngeliatnya, bisa copot jantung dia kalo ngeliat semua itu.
Beberapa pembantu juga sedang beres2 menyingkirkan debu.
“mba, kamar tuan Rio dimana ya ?” tanya Ify.
“oh tu ada diatas, kamu naik dan belok kanan sampai ujung, kamar Tuan Rio yang paling ujung.” Pembantu itu menunjuk kamar Rio yang tak terlalu terlihat dari bawah karena tertutup tembok.
“oh makasih ya mba.”
Ify segera menaiki tangga dan dengan sekejap sampai didepan pintu kamar Rio. Agak deg-degan juga mau ketemu sama Rio, tapi bukannya Rio masih di kantor?? Tidak, Rio sudah pulang karena disuruh Sivia. Ify menghela nafas sekali lagi, mempersiapkan diri karena sebentar lagi akan bertemu Rio.
TOK TOK TOK
Ify mengetuk pintu kamar itu. Tapi ga ada yang buka.
TOK TOK TOK
Sekali lagi mengetuk tapi tetap saja tidak terdengar suara orang.
Entah mengapa Ify tergerak untuk masuk, tapi ia segera menepis pikirannya itu.
‘apaan sih, Fy. Inget ini tuh kamar majikan kamu’ batin Ify sambil geleng2.
TOK TOK TOK
Sekali lagi mengulang pengetokan dan kali ini terdengar suara seseorang.
“masuk!” suruhnya. Ify yakin itu Rio karena suaranya yang cukup familiar itu.
Segera Ify membuka pintu dan masuk. Tapi …………………
“AAAAAAAA”
######
“AAAAAAAA” teriak Ify dan refleks menutup matanya.
Rio mengerutkan keningnya dan memicingkan mataya. Bingung kenapa Ify teriak2 begitu.
Rio menghampiri Ify, tapi Ify malah mundur.
“jangan mendekat , AAAAAA”
“hey, elo kenapa ?” tanya Rio tertawa bingung.
“jangan PLISS, JANGANN!” Ify malah histeris.
“ehh, kenapa sih.” Rio menghampiri Ify yang berada diujung pintu.
“jangan!!!” Rio yang baru mau megang Ify, tapi langsung Ify tepis.
“ihhh, amit2 gueee!!”guma Ify jijik.
“kenapa??” tanya Rio bingung.
Ify menunjuk- nunjuk Rio. Rio melihat kearah yang ditunjuk Ify. Dia baru sadar kalo dia Cuma make handuk di perut.
Rio malah ketawa. Polos banget sih Ify, batinnya.
“lebay loe!! Gue kira apaan! Haha!” Rio malah ketawa2 gaje.
“ihh, jorok banget sih, saya keluar dulu, hii!!” Ify bergidik ngeri. Tapi rio malah megang tangan Ify dan menyuruhnya tetap disini.
“lo harus tetep disini !!” paksa Rio masih mencengkram tangan Ify.
“ga mau, saya bisa lapor polisi kalo anda masih maksa.” Ify menatap Rio sinis.
“ih, emang gue mau ngapain coba, lo disini tungguin gue, dan gue mau ganti baju dulu, tunggu bentar.” Rio melepaskan cengkraman tangan Ify dan masuk kamar mandi lagi, mau ganti baju.
“huh!” Ify melihat Rio kesal, udah minta, maksa lagi.
Ify mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru kamar Rio. Dia sedikit menarik ujung bibirnya dan tersenyum simpul. Ternyata laki2 ini sangatlah rapi. Semuanya, tak ada satupun debu disana. Dan yang membuat Ify lebih kagum adalah piala2 yang berjumlah banyak itu juga beberapa sertifikat yang ia dapat karena kepintarannya itu tertata rapi disebuah rak. Ify mendekati piala2 itu. Dan membacanya satu2.
‘juara I Olimpiade basket setingkat Nasional’
‘juara umum MIPA seAsia tenggara’
‘juara I Lomba Story Telling setingkat Jakarta’
‘juara II kontes Piano Setingkat nasional’
Ify baru ingat waktu itu Ia yang mengalahkan Rio dalam kontes piano seIndonesia waktu itu, lomba di Bandung dengan 3 perwakilan dari Jakarta dan Ia dan Rio termasuk salah satu perwakilan Jakarta.
‘juara umum Matematika seDKI Jakarta’
‘Juara II lomba Marching Band Setingkat Nasional’
Dan beberapa lomba lain dari juara Umum hingga juara harapan III pernah Rio dapat. Sungguh pintar pemuda itu.
Juga beberapa sertifikat tertempel didinding samping tempat piala itu dipajang. Ify membacanya lagi. Rasa kagumnya mulai muncul melihat sertifikat2 itu. Yang menyatakan bahwa Rio ada pemilik nem tertinggi bukan hanya di SMPnya namun juga se-Jakarta. Juga beberapa sertifikat ranking satunya dulu, dan lomba2 yang pernah dimenangkannya.
Sepertinya kehidupan Rio memang sempurna. Tak ada yang kurang satupun. Dia mempunyai kekayaan tanpa batas, keluarga yang hangat, teman2 yang care, dan juga dia pintar dalam berbagai bidang, tapi mengapa Rio seperti itu, dengan berat hati penulis menjawab, ‘karena cinta’.
Apa ? cinta? Seharusnya Rio bahagia. Banyak sekali yang menyayanginya. Perempuan mana yang tak takhluk padanya. Dengan aura pesonanya yang, beeeuuhh, berwibawa banget. Tapi bukankah para fansnya itu hanya mengaguminya saja, lalu bagaimana dengan masalah asmaranya, Rio nampaknya tak percaya akan takdir.
“hey ..” Ify tersentak dan menoleh ke belakang, Rio sudah siap dengan kaos oblongnya dan celana jeansnya (style Rio banget nih kalo di cerita2)
“pasti lo kagum sama gue ya gara2 piala gue banyak banget ..” tebak Rio benar, Ify malah mengerutkan kening.
“pede gila tuan, saya Cuma heran aja, orang kayak anda kok bisa menang segini banyaknya lomba ya,” ejek Ify sambil terkekeh.
“wetsah, gue kan pinter, ya walaupun ga bisa ngalahin lo ! haha” Rio tertawa lepas. Sungguh kejadian yang amat tak biasa, langka sekali Rio bisa tertawa seperti ini. Ify ikut tersenyum melihat tawa Rio yang renyah sekali.
“ayo tuan, keburu sore.” Ajak Ify.
“iya ya, gue lupa , ayo ah, ntar gue dimarahin ka Via, hu males!” ajak Rio namun akhirnya menggerutu. Ify mengangguk.
#####
-BERSAMBUNG-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar